Curhat Seorang Dokter: Rekannya Tanya Hukum Donor Darah Pemakan Babi, Gimana Sih Sebenarnya?
Masukkan Artikel HPKnya disini
250x250/200x200

Tahun 2018 merupakan era di mana netizen semakin berani menyuarakan pendapatnya di media sosial. Tak hanya berkomentar julid di instagram, tetapi juga membuat thread tentang apapun di twitter. Baru-baru ini, seorang dokter yang menyebut dirinya “dokter-kinyis-kinyis-baru-lulus,” bernama Hanani Kusumasari (@sconov), curhat panjang lebar di akun twitter pribadinya.
Curhatan tersebut bermula dari ketaksengajaannya melihat group chatsang pacar yang berisikan “dokter-kinyis-kinyis-baru-lulus” sama seperti dirinya. Namun, sesuatu yang menganggu dirinya adalah pertanyaan dari rekan dokternya yaitu “hukumnya donor darah dari pemakan babi gimana ya?” Ia pun jengkel dan menyerang balik rekannya dengan pertanyaan “hello, you’re a DOCTOR and you classify your patients?—anda dokter dan masih mengklasifikasikan pasien anda?”

Hanani Kusumasari memulai pendapatnya dengan “kita harus meluruskan pemahaman sejawat kita yang kemakan isu agama yang dikaitkan dengan agama.” Ia pun menjelaskan bahwa apapun yang telah kita konsumsi telah dimetabolisme menjadi sebuah zat-zat kecil ketika sudah masuk dalam darah. Bahkan alodokter.com hanya menulis usia, berat badan minimal, temperatur tubuh, tekanan darah baik, denyut nadi teratur, hemoglobin minimal, serta penyumbangan darah per tahun, sebagai syarat untuk donor darah. Sehingga, tak bisa dokter mengklasifikasikan seorang pendonor dengan apa yang telah ia konsumsi sebelum mendonorkan darahnya. Kecuali alkohol, Hanani menyebutkan bahwa hanya hal tersebut yang dapat dideteksi darah. Sehingga, mereka yang semalam sedang berpesta pora dan menenggak alkohol tidak diperbolehkan mendonorkan darahnya.

Bahkan, di setiap PMI terdekat, selalu ada kuisinioer berisi “apakah anda mengonsumsi alkohol beberapa hari terakhir?” dr. Christian Haryanto Junaedi juga menyatakan bahwa pemabuk atau alkoholisme dilarang untuk mendonorkan darahnya, dikutip dari alodokter.com. Berbeda dengan mereka pemakan daging babi. Penulis percaya bahwa semua yang diciptakan Tuhan memiliki fungsinya masing-masing. Dari awal kita juga sudah ditekankan untuk memiliki rasa toleransi yang tinggi. Di Indonesia sendiri, penulis tahu, tak hanya ditinggali oleh penduduk beragama Islam, tetapi juga agama-agama lainnya yang melegalkan konsumsi babi. Nah, siapapun yang ingin berbuat kebaikan memiliki haknya, bukan? Terlepas dari agama yang mereka anut.

Back to the topic, Hanani menyebutkan “memangnya kita bisa memilih kantong darah ‘muslim’ tok? Yo ora iso, lah. Itu kantong label masuknya udah kode, bukan nama pendonor, apalagi agama. Kode 1 lagi buat arsip sumber darah dari siapa, tapi ngapain coba ubek-ubek agamanya apa. Ngabisin waktu. Selak pasiene dipanggil Tuhan.” Pasti beberapa dari Sahabat Boombastis berpikir “kalau sudah dipanggil Tuhan ya memang sudah saatnya,” ketika membaca kalimat di atas. Namun, jika memang belum saatnya dan manusia masih bisa berusaha, kenapa tidak?
Hanani pun sudah familiar dengan ustadz-ustadz yang memiliki inovasi “bank darah syariah” di setiap dakwahnya. Ia pun menyarankan untuk mengikuti ustadz yang minimal memiliki latar belakang di bagian medis ketika ia menyebarkan dakwah tentang kesehatan. Ia pun menutup kesimpulannya dengan “kalau kalian sudah dokter, kalian enggak perlu lagi bedakan pasien berdasarkan agama, apalagi bedakan pendonor berdasarkan agama.” Tak lama setelah Hanani menyelesaikan curhatannya, thread-nya di twitter langsung viral.

Beberapa netizen yang nimbrung di sana menjawab pertanyaan “dokter-kinyis-kinyis-yang-baru-lulus” di atas dengan jawaban “hukumnya ya enggak papa,” ada pula yang ikut geleng-geleng kepala seperti yang ada di batin Hanani Kusumasari. Pengguna twitter bernama @urwahwutsqo malah membagikan tulisan mengenai donor darah di sebuah blog, yang penulisnya juga merupakan seorang dokter. Ada beberapa poin yang penulis tangkap, “hukumnya tidak mengapa (mubah) walaupun agama mereka berbeda,” serta “Islam tidak dzalim dengan orang Kafir sekalipun,” dikutip dari muslimafiyah.com, yang ditulis oleh dr. Raehanul Bahraen.

dr. Jiemi Ardian (@jiemiardian) juga ikut nimbrung dalam thread Hanani Kusumasari, ia menyatakan “Tolong dokter itu suruh pensiun. Udah lupa sumpahnya “Saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya tidak terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan, kebangsaan, kesukuan, gender, politik, kedudukan sosial dan jenis penyakit dalam menunaikan kewajiban terhadap pasien.” dr. Thoriq Muthohari (@thoriqmm) juga menanggapi pertanyaan “dokter-kinyis-kinyis-baru-lulus” setelah disebut oleh rekannya. Ia menjawab “hukumnya halal. Nggak perlu patronizing ke pertanyaannya, cukup dijawab. Beda cerita kalo memang sudah tau hukumnya tapi tetep berusaha deskriminatif.”
Meski sudah ada beberapa dokter yang nimbrung dalam thread Hanani Kusumasari (@sconov), masih ada saja netizen yang tetap kekeuh dengan pendapatnya dan menjadi takut untuk mendonorkan maupun menerima donor dari pemakan babi. Kalau menurut Sahabat Boombastis sendiri bagaimana menanggapi pertanyaan ini?
Mega Movement
A new movement is developing and it has an acronym: MOOC.
MOOC stands for Massive Open Online Courses. How big it becomes is anyones guess but if it is free then it will attract legions.
Think Again
One of my friends encouraged me to get involved. He said he was taking Think Again: How to Read and Argue by Duke University. The platform is https://www.coursera.org/. The courses here are currently free and lead to a certificate or Statement of Accomplishment. Music to my ears: Free and a certificate!
1. FREE
Coursera hosts free courses. That to me is a great incentive and attraction because I really dont want to pay out money. In January 2013, there were over 200 courses listed on the coursera website ranging from genetics and history to cosmology. How long these courses will remain free is anyones guess.
2. Certificate
There is the possibility of a free certificate on completion.
The certification process adds an element of seriousness and standards if you choose to pursue the course for a certificate or a Statement of Accomplishment.
3. Multi Entry and Late Entry
My chosen course was Think Again but it had already started. I was late. No problem you can join late. I joined this course after it started and was able to catch up. I was able to interact with other students in a Facebook Group and got all my silly questions about how to catch up and comply with the requirements answered.
4. No Limits
The other exciting aspect is that you can sign up for all of the courses if you so wish. There is no number limit although it would be sensible to just sign up for a few. I have signed up for courses that help me with thinking, writing and finance.
I really need to be able to think more deeply. I think from writing here, you can see I need to improve my writing. As for finance I would like to try this I know I doubt if I will finish these particular courses but I want to see if I have any ability when it comes to finance.
You can check out what I have signed up here: https://www.coursera.org/user/i/cb5612b71569fb61faaabf268fc8e2f2
5. Objectives
Vivian Ramstedt stated in the Think Again Facebook group as to why she was taking certain courses: I am taking Galaxies and Cosmology next just to watch videos. Fundamentals of Personal Financial Planning for a certificate. And then, The Modern World: Global History since 1760 just to watch videos. Algebra and Pre-Calculus next hopefully for certificates.
These are the real and measurable benefits of these courses. People are studying these courses for general knowledge and for educational credentials. All good reasons.
On the Go
In England we were always taught to have a book on the go. That may still be good advice but in the 21st century I would say always have a free course on the go. Take a look at what I am signed up for and get inspired. Let me know if you join me.
Masukkan Artikel HPKnya disini

0 Response to "Curhat Seorang Dokter: Rekannya Tanya Hukum Donor Darah Pemakan Babi, Gimana Sih Sebenarnya?"
Post a Comment